Eksplorasi wilayah

Cari kabupaten/kota di Sumatera Utara

Pilih wilayah untuk melihat ringkasan tutupan lahan dominan dan indikasi perubahan tutupan hutan Hansen 2025.

34 kabupaten/kota
Pilih satu wilayah untuk menampilkan ringkasan informasinya.
Ringkasan Data

Kehilangan hutan dalam satu pandangan.

Empat indikator inti untuk membaca skala kehilangan tutupan hutan, sebaran wilayah terdampak, dan status kawasan yang paling menonjol pada 2025.

Kehilangan Tutupan Hutan-Hansen Loss 2025

Total luas kehilangan tutupan pohon yang tercatat pada dataset valid.

Wilayah Terdampak-Kabupaten/Kota

Jumlah wilayah administratif dengan catatan kehilangan tutupan hutan.

Prioritas Wilayah-Memuat data

Kabupaten/kota dengan luasan kehilangan tutupan hutan tertinggi.

Status Kawasan Utama-Memuat data

Status kawasan dengan kontribusi kehilangan tutupan hutan terbesar.

Pembacaan Utama

Membaca kehilangan hutan melalui wilayah dan status kawasan

Ranking kabupaten/kota menunjukkan wilayah yang memerlukan perhatian lebih dahulu. Komposisi status kawasan melengkapi pembacaan tersebut dengan konteks tata kelola, sehingga data dapat digunakan secara lebih tepat untuk pemantauan, verifikasi lapangan, dan komunikasi publik.

Foto udara lanskap hutan dan area terbuka di Tenggulun
Grafik Utama

Loss forest 2025 dan perubahan status kawasan.

Dua visual pertama memakai ringkasan Hansen Loss 2025. Tabel berikutnya membandingkan luas kawasan hutan dari SK 6609 Tahun 2021 dan SK 11580 Tahun 2025 secara terpisah.

Kabupaten/KotaTop 10

10 kabupaten/kota dengan loss forest terbesar

Wilayah administrasi yang menyumbang luasan kehilangan hutan tertinggi pada dataset 2025.

STAT 2025Status kawasan

Komposisi loss forest menurut status kawasan 2025

Menunjukkan apakah kehilangan hutan lebih banyak berada di APL, kawasan produksi, konservasi, atau status lain.

SK 6609 Tahun 2021SK 11580 Tahun 2025

Tabel perbandingan luas status kawasan 2021 dan 2025

Perbandingan ini memakai luas kawasan dari masing-masing SK, bukan data loss Hansen. Kategori konservasi SK 2025 dijumlahkan agar setara dengan kategori Kawasan Konservasi pada SK 2021.

Kategori pembandinganSK 6609 Tahun 2021SK 11580 Tahun 2025Perubahan

Kategori konservasi tahun 2025 merupakan akumulasi Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Buru, Taman Hutan Raya, Taman Nasional, dan Taman Wisata Alam.

Overlay SK2021–2025

Rincian perubahan status kawasan 2021–2025

Rincian hasil overlay SK 6609 Tahun 2021 dan SK 11580 Tahun 2025. Setiap baris menunjukkan perubahan klasifikasi, jumlah fitur, dan luas area terhitung.

Ranking Wilayah

Kabupaten/kota prioritas berdasarkan luasan loss forest.

Daftar ini membantu membaca wilayah mana yang perlu menjadi fokus audit spasial, komunikasi publik, dan verifikasi lapangan lanjutan.

Tabel Detail

Tabel loss forest per kabupaten/kota.

Tabel ini memakai total luas_ha per WADMKK. Status dominan menunjukkan status kawasan yang paling besar kontribusinya dalam tiap kabupaten/kota.

PeringkatKabupaten/KotaTotal Loss ForestKontribusiStatus Dominan
Memuat data Hansen loss 2025...
Dampak Keanekaragaman Hayati

Spesies prioritas dan risiko kehilangan habitat

Kehilangan dan fragmentasi tutupan hutan dapat menurunkan kualitas habitat serta konektivitas lanskap. Tiga spesies kunci berikut membutuhkan perhatian karena bergantung pada ekosistem hutan Sumatera yang utuh dan saling terhubung.

Primata endemik

Orangutan Sumatera

Pongo abelii
Kritis (CR)
  • Populasi diperkirakan kurang dari 14.000 individu.
  • Bergantung pada hutan dataran rendah hingga perbukitan.
  • Kehilangan dan keterputusan habitat menjadi ancaman utama.
Predator puncak

Harimau Sumatera

Panthera tigris sumatrae
Kritis (CR)
  • Estimasi populasi berada di bawah 400 individu.
  • Memerlukan kawasan jelajah yang luas dan terhubung.
  • Fragmentasi habitat dapat meningkatkan konflik manusia-satwa.
Satwa payung

Gajah Sumatera

Elephas maximus sumatranus
Kritis (CR)
  • Lebih dari 69% habitat dilaporkan hilang dalam satu generasi.
  • Koridor jelajah tertekan oleh fragmentasi dan konversi lahan.
  • Tekanan habitat turut meningkatkan risiko konflik di sekitar lahan budidaya.